link href="'http://i856.photobucket.com/albums/ab121/freedom9_bucket/LOGOAL-ANSHOR.jpg'">rel="'Shortcut icon'"/>

Menjadi Sederhana…

Saya memiliki seorang sahabat dekat, “Akang” biasa saya memanggilnya, karena dia berasal salah satu wilayah di Jawa Barat. Wajahnya khas ketampanan pria-pria Sunda, teduh dengan senyum manis yang selalu tersungging. Kalau bicara ramah meski tidak terlalu lembut namun selalu menarik untuk didengarkan, seorang pemuda yang sederhana, mungkin sangat sangat sederhana [PSS Pemuda Sangat Sederhana]. Iya sederhana secara materi :) tapi hatinya tidak sederhana, hatinya sangat kaya, kaya raya dengan nilai nilai kehidupan, yang sulit dimiliki oleh anak anak pejabat yang sering saya temui :)

Sahabat saya ini tinggal dirumah yang sempit, rumah petak istilahnya, digang yang sempit pula, yang nyamuknya mungkin lebih banyak dari jumlah penghuninya, yang suara radio tetangga terdengar kerumahnya karena nempel, yang tak ber-AC :) dan dirumah yang sempit inilah sahabat saya menghidupi Ayah dan Ibunya, menghidupi seorang kakaknya dan seorang keponakan anak adiknya yang telah menjadi yatim karena Ayah si kecil ini meninggal sewaktu ia masih dalam kandungan, bisa dibayangkan dengan gaji dibawah 1,8 juta rupiah, ALLAH menggantungkan dipundaknya 4 nyawa, eh 5 termasuk nyawa sahabat saya, subhanallah… ketika ALLAH menitipkan beban maka ALLAH akan memenuhi. Barakallah ya Kang :)

Dengan rumus matematika apapun, dengan kalkulator tercanggih sekalipun saya tidak mampu menghitung bagaimana uang yang hanya segitu mampu menafkahi semua orang dirumahnya tanpa kekurangan, jika sahabat saya yang anak pejabat makan 3x sehari, sahabat saya ini juga makan 3x sehari. Jika sahabat saya yang pilot pulang membawakan coklat untuk saya, sahabat saya inipun membawakan coklat untuk sang keponakan kecilnya, jadi saya simpulkan bahwa rejeki itu bukan banyaknya, tapi seberapa berkah yang ALLAH titipkan.

Ada dua hal yang saya pelajari mengapa ALLAH sangat mencintai sahabat saya ini, [1] karena sahabat saya ini sangat ikhlas, ikhlas menerima semua yang diletakan ALLAH dipundaknya, saya bahkan tidak pernah mendengarnya mengeluh, hidupnya selalu bahagia, berkecukupan boleh dibilang.

Dan ke [2] rasa syukur yang melekat dalam kesehariaannya, ia mensyukuri sedikit yang diberikan ALLAH dan mensyukuri apa apa yang tidak ALLAH berikan untuknya, yang bukan miliknya ini dianggapnya karena sesuatu itu memang tak pantas menjadi miliknya menurut ALLAH dan ia ikhlas karena keputusan ALLAH…

Dua kali melamar gadis, dua kali pula ditolak orang tua sang gadis dengan alasan tidak sepadan secara ekonomi, anak orang mau dikasih apa :( ah si bapak lupa bahwa ALLAH akan mencukupkan, meski tak berlebihan, kan ALLAH memang tidak suka yang berlebihan bukan? :) dan sahabat saya tidak marah bahkan ketika hinaan demi hinaan dilontarkan oleh Ayah si gadis pujaan hatinya ini “tenang aja kang, suatu hari akan datang perempuan pilihan ALLAH yang kaya hatinya yang akan mencintai akang dan keluarga, apa adanya” la tahzan :) *sok tahu nih saya, gak tahu apa rasanya ditolak calon mertua De* haih !!

Pesannya untuk saya yang selalu saya ingat adalah ”De, ketika kita ridho atas apa apa yang menjadi keputusan ALLAH atas hidup kita, maka ALLAH akan ridho terhadap apa apa yang kita miliki, ikhlas gak ikhlas kan beginilah jalan hidup saya jadi mending ikhlas agar ALLAH ridho kan. Dan juga De, kalau kita mensyukuri yang sedikit ini maka ALLAH akan menambah nikmat, mungkin uangnya ya segitu gitu aja tapi nikmatnya akan bertambah terus De, ALLAH tidak pernah ingkar janji kan?”

Iya, sahabat saya ini benar bahwa syukur akan menambah nikmat ALLAH, mungkin mobil kita dari tahun ke tahun gak ganti tapi nikmatnya gak berkurang, mungkin gaji kita hanya segitu gitu aja tapi nikmatnya bertambah, kemarin uang segini hanya bisa beli makanan, esok dengan uang yang jumlahnya sama kita bisa beli baju :) subhanallah.

Jadi, BERHENTILAH mengeluh, bahagia itu bukan banyaknya tapi nikmat yang dititipkan ALLAH, kalau kita syukuri gaji yang sedikit ini maka nikmatnya akan ALLAH tambah, ingat loh bukan jumlah uangnya yang bertambah tapi nikmatnya :)

Karena kalau kita ngeluh, penatnya nambah, nikmatnya gak nambah, rejeki yah segitu segitu aja, jatuhnya jadi pengen punya hutang untuk menghentikan keluhan, gak punya HP baru ngutang, kan nambah beban kan. Dan kalau gak punya pacar ya gak usah ngeluh, kan ngeluh gak bikin kita jadi punya pasangan kan? mendingan disyukuri, dengan sendiri kita terjaga dari dosa dosa zina bukan? iya kan? :)

“fabiayyi ala i rabbikuma tukadziban” Maka ni’mat ALLAH yang manakah yang sanggup kita dustakan? :)

sumber : http://rinduku.wordpress.com

Related Posts with Thumbnails free counters

Lembaga Pendidikan Islam dan Sosial "AL-ANSHOR" © 2011-2015 by Al-Anshor.

TOPO